Tips Membuat Bio-Etanol Berbahan Baku Singkong


Singkong memiliki nama Latin Manihot utilissima. Ini adalah umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 sentimeter dan panjang 50-80 sentimeter. Ukuran singkong ini bergantung pada jenisnya. Seperti kita ketahui, daging umbi ini berwarna putih atau kekuning-kuningan.
Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat, tetapi sangat sedikit proteinnya. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daunnya, yang mengandung asam amino metionin.
Karena memiliki banyak kandungan karbohidrat, masyarakat banyak yang memanfaatkannya sebagai makanan pokok pengganti beras. Selain harganya lebih murah, singkong juga lebih mudah ditanam. Kita bisa membudidayakannya di lahan yang sempit dan tidak terlalu membutuhkan irigasi.
Tapi umbi singkong tidak tahan lama, meski disimpan dalam lemari pendingin. Gejala kerusakannya ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bisa bersifat racun jika dikonsumsi oleh manusia. Meski begitu, kita bisa “mengawetkannya” dengan cara menjadikannya sebagai gaplek. Prosesnya sangat mudah. Umbi singkong yang telah dipanen kemudian dikupas dan dikeringkan. Gaplek yang telah kering bisa ditumbuk sebagai tepung tapioka yang dapat dibuat bermacam-macam kue. Tepung tapioka dari gaplek ini bahkan bisa dibuat menjadi nasi tiwul yang lebih gurih dari nasi beras.
Selain berguna untuk bahan berbagai makanan, singkong juga dapat diolah menjadi bio-etanol yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Ini karena singkong mengandung zat pati. Untuk mengurai zat pati di dalam singkong, kita perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. yang dapat menghasilkan enzim alfamilase dan glikoamilase yang nantinya akan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Nah, gula inilah yang akan difermentasi menjadi etanol.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah langkah-langkah pembuatan bio-etanol berbahan singkong yang diterapkan Dr. Ir. Tatang H. Soerawidjaja dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Pengolahan ini berkapasitas 10 liter per hari.

1. Kupas 125 kilogram singkong segar. Kita bisa menggunakan semua jenis singkong. Setelah dibersihkan, singkong dicacah kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal mencapai 16 persen. Ini mirip cara pengolahan singkong menjadi gaplek.

3. Lalu, masukkan 25 kilogram gaplek ke dalam tangki stainless steel berkapasitas 120 liter. Tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100 derajat Celsius selama 30 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.

4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam tangki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong, kita memerlukan 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10 persen dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100 juta sel per mililiter. Lalu, Aspergillus dimasukkan ke bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan pun akan berkembang biak dan bekerja mengurai pati.

5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi dua lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Tapi, sebelum difermentasi, pastikan kadar gula larutan pati maksimal sebesar 17-18 persen. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces untuk berkembang biak dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebih tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Apabila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan bakteri Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28-32 derajat Celsius dan pH 4,5-5,5.

7. Setelah 2-3 hari, larutan pati berubah menjadi tiga lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya adalah air dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6-12 persen etanol.

8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.

9. Meski telah disaring, etanol masih bercampur air. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78 derajat Celsius atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu, etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100 derajat Celsius. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

10. Hasil penyulingan berupa 95 persen etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar cairan itu larut, kita perlu etanol berkadar 99 persen atau yang disebut etanol kering. Oleh karena itu, kita perlu destilasi absorben. Etanol 95 persen itu dipanaskan hingga suhu 100 derajat Celsius. Pada suhu itu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air yang tersisa hingga diperoleh etanol 99 persen yang siap dicampur dengan bensin. Sepuluh liter etanol 99 persen membutuhkan 120-130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kilogram gaplek.

Selain singkong, kita juga bisa menggunakan bahan lain untuk dijadikan bio-etanol. Misalnya ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Yang penting tanaman tersebut mengandung zat pati.

By dennyhellmanda90

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s